Published On: Rab, Mei 4th, 2016

WCF Sosialisasikan Komik

UPDATE, Bandung

Sosialisasi WCF (World Culture Forum)  melalui media komik dipandang penting karena komik merupakan salah satu media kreatif dan efektif untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan yang terdapat dalam World Culture Forum ke kalangan muda Indonesia. Terlebih lagi dalam roadshow kali ini World Culture Forum akan mengusung tema “Kearifan Lokal dalam Komik Nasional”.

World Culture Forum merupakan suatu forum budaya dunia yang menjadi tempat diskusi untuk membahas isu-isu strategis kebudayaan dan dapat merekomendasikan kebijakan untuk pengembangan dunia. WCF pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 di Bali, Indonesia.

Bersama Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia selaku penyelenggara World Culture Forum (WCF) 2016 berkolaborasi dengan Pasar Komik Bandung dalam rangkaian roadshow yang salah satunya akan diadakan di Braga Citiwalk, Bandung. Pasar Komik Bandung berlangsung pada tanggal 7-8 Mei 2016.

Roadshow budaya World Culture Forum dalam acara Pasar Komik Bandung 5 akan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi, Antonius Harso W. (Steering Committee WCF) dan beberapa komikus ternama dari beberapa daerah di Indonesia, yaitu Wiratama (Digidoy, Medan), Muhammad Guntur (D’loco Lombok), dan Garry Wibiksana (Bandung). Mereka akan berbincang-bincang tentang kearifan lokal yang dibingkai dalam rangkaian gambar dan cerita berupa komik. Kerjasama antara World Culture Forum dan acara Pasar Komik Bandung 5 diharapkan akan menghasilkan perpaduan tradisi kearifan lokal budaya Indonesia ke dalam budaya populer komik.

 

World Culture Forum 2016 akan diselenggarakan pada Oktober mendatang, di Bali, Indonesia, dengan  mengusung tema “Culture for an Inclusive Sustainable Planet”. Diperkirakan peserta berjumlah 1.500 orang akan hadir dari berbagai latar belakang seperti pejabat, kepala negara, sipil, NGO, pemuda-pemudi, akademisi dan perwakilan komunitas-komunitas.

“Penyelenggaraan WCF di Bali nanti diharapkan dapat menjadi jembatan, minimal antara tiga komponen, yaitu 1) Jembatan sebagai masa lalu dan masa depan, 2) Menjadi jembatan generasi kemarin dan masa depan, 3) Jembatan antara warisan kemarin dan lapang / landscape baru. Hasil dari WCF diharapkan dapat menstrukturkan pengalaman lokal / kearifan lokal menjadi nilai-nilai yang diakui secara global”, tutur Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, pada jumpa pers, Senin, 18 April 2016, di Gedung A Lantai 3, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia.

Lebih lanjut, Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan mengatakan bahwa, “di World Culture Forum 2016  nanti, peserta akan melakukan tiga proses penting yakni re-experiencing, re-conceptualizing dan rejoicing terhadap budaya Indonesia yang diharapkan akan memberikan sumbangsih positif bagi dunia.”

*** Deetje

Share This:

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>