Published On: Sab, Apr 8th, 2017

Perempuan era milenia dihadapkan pada “proxy war”

Jurnal7, Bandung

Perempuan  tidak hanya memiliki posisi sentral dalam keluarga yang berperan sebagai istri, mitra suami, ibu rumah tangga maupun pendidik generasi penerus , namun juga sebagai pengambil keputusan untuk berbagi pilihan hidupnya, kata Sonny Mariana Ketua Pelaksana Seminar “Kesetaraan Peran Perempuan di Era Milenia “, yang berlangsung  di Hotel Grand Tjokro, Jalan.Cihampelas Bandung, sabtu (8/4/2017).

Sejumlah pembicara dihadirkan dalam seminar yang diikuti sekitar 500 peserta perempuan lintas bidang, lintas minat dan lintas bakat dari 27 Kabupaten/Kota se  Jawa Barat.

Dalam kesempatan tersebut Ruli Rahadian dari Direkotrat Bela Negara ( Kementerian Pertahanan), mengatakan tidak perlu lagi dibahas kesetaraan, karena di Indonesia laki-laki dan perempuan sudah setara.

Bahkan perempuan memiliki “privalage”, lebih tinggi dari kaum laki-laki karena kaum laki harus menjunjung tinggi peran perempuan dalam porsinya sebagai ibu.

Permpuan di era milenea ini, menghadapi tantangan berat berupa “proxy war”, dan “asimetris war”, perang yang musuhnya tidak telihat, perang melawan serangan gadget, atau perang di dunia maya.

Perang di dunia maya lebih mematikan dibanding menghadapi musuh yang terlihat atau perang konvensional , dimana kita bisa berhadapatn satu lawan satu, tapi serangan lewat dunia maya yang dilumpuhkan adalah pikiran atau pikiran yang teracuni.

Diantaranya bisa melaui tayangan-tayangan film mapun tayangan iklan, conohnya adalah ketika marak film Korea, semua generasi muda di Indonesia teracuni untuk mengikuti gaya artis-artis Korea, termasuk juga produk-produk yang dibuat Korea jadi booming di Indonesia, itu  merupakan serangan yang mematikan melalui dunia maya atau lazim disebut proxy war, papar Ruli.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Provinsi Jawa Barat  Dewi Sartika, mengatakan salah satu penyebab utama rendahnya peran perempuan di Jawa Barat adalah tingkat pendidikan perempuan yang masih rendah.

Menurut Dewi sartika ,  rata-rata lama sekolah untuk perempuan adalah 7,4 tahun, tertinggal dari rata-rata lama belajar pria, yakni 8,4 tahun. Padahal, pemberdayaan perempuan di antaranya dimulai dari tingkat pendidikannya.

Perempuan di  Jawa Barat  pun, katanya, masih tertinggal dibanding laki-laki dalam hal pemberdayaan ekonomi, bahkan perbedaanya nyaris dua kali lipatnya jika dibandingkan laki-laki. Selama ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat  terus berupaya memberdayakan perempuan dengan pelatihan dan pembinaan UMKM.

“Jika pendidikannya tinggi, perempuan pastinya ingin memiliki tingkat perekonomian yang tinggi, yaitu dengan berusaha. Kalau ekonominya sudah mantap, dia akan lebih peduli kesehatan, selanjutnya kesejahteraan dirinya dan keluarga pun semakin meningkat,” tutup Dewi

Pembicara lain yang memberikan pencerahan kepada sekitar 500 perempuan tersebut, diantaraya Rieke Riziani (Psikolog), Bunda Egi   dan Rini A.Sutisno ( Enterpreuneur)

Sonny Mariana dari Komunitas Kesetaraan Perempuan mengatakan kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkokoh posisi atau peran perempuan di berbagai bidang.

Para peserta seminar disuguhi  berbagai  isu diangkat dalam pertemuan ini, di antaranya peran perempuan dalam bela negara, perekonomian, dan pendidikan keluarga. Juga berbagai permasalahan yang masih terjadi, seperti kekerasan terhadap perempuan.

Selanjutnya Komite Kesetaraan Perempuan akan melakukan roadshow ke sejumlah daerah lainnya di Jawa Barat dalam waktu dekat, akan berkoordinasi dengan Kemenkumham untuk kegiatan bela negara bagi perempuan, tandas Sonny Mariana.

*** Deetje

 

 

 

Share This:

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>