oleh

Mugi Sudjana Ketum Ormas BBC Berikan Solusi Hadapi Darurat Sampah Kota Bandung

Jurnal7.com|Kota Bandung sedang menghadapi masalah Darurat Sampah yang hingga kini belum juga berahir , akibat terbakarnya TPA Sarimukti.

Ditengah musibah ini Ormas BBC memberikan solusi pada Pemerintah maupun masyarakat berupa alat pengolah limbah plastik.

Mugi Sudjana Ketua Umum Ormas BBC mengatakan alat ini yang biasa disebut Pyrolisis dapat mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif, ungkapnya saat menyaksikan presentasi yang berlokasi di Jalan Raya Sapan, Rabu (6/9/2023).

Menurutnya alat ini adalah  salah satu penemuan anak bangsa yang harus diapresiasi Pemerintah, masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya.

Menurut Kang Ugi sapaan akrab Ketum Ormas BBC,  sampah plastik bisa dimanfaatkan  menghasilkan solar , bensin dan minyak tanah.

Ditegaskannya, Ormas BBC selalu memiliki kepedulian tinggi di situasi apapun, terlebih kini Kota Bandung sedang mengalami Darurat Sampah.

Selain mengurangi timbunan sampah plastik , alat ini juga  bernilai ekonomis tinggi dapat dimanfaatkan di tiap RW dan Kecamatan se Kota Bandung, pungkasnya.

Pyrolisis
Prinsip kerjanya adalah
Energi panas mendorong terjadinya oksidasi sehingga molekul karbon terurai…
Mesin pyrolisis banyak dijadikan bahan tesis dan percobaan, tetapi sampai saat ini banyak mesin pyrolisis yang tidak berhasil.
Pyrolisis masih menjadi masalah dan dianggap kurang ekektif disebabkan
1. membutuhkan suhu tinggi (700°) pada proses pemanasan limbah plastik
2. Salah memilih bahan baku
3. Waktu yang lama
4. Boros bahan bakar
5. Hasil tidak di treatment
6. Tidak ada uji coba lanjutan

Mesin pyrolisis yang kami ciptakan sangat berbeda dengan yang ada di pasaran dan yg sering dilakukan uji coba para mahasiswa.
Banyak desain yang diperlukan agar mesin pyrolisis menjadi maksimal diantaranya bagaimana reaktor dapat mencapai suhu yang dibutuhkan secara merata.
Disamping desain, treatment katalis sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan hasil dengan CN dan oktan yang sesuai.
Hasil awal dari mesin pyrolisis adalah cairan dengan CN rendah tetapi bisa digunakan sebagai pengganti minyak tanah yg hasil uji kalornya lebih bagus dengan api biru.
Limbah bahan baku yang bisa digunakan adalah plastik PP, PE, HDPE, LDPE, PS (Styrofoam), serta oli bekas.
Hasil dari bahan baku diatas, 1kg setara 0.7-0,8 liter setelah dikurangi bahan pendukung yang terdapat dalam kandungan plastik tsb. Setelah ditreatment dan siap pakai menjadi 0.6-07 liter. Syarat Bahan baku diatas dengan SOP bersih dan kering
Limbah palstik yang tidak bisa dipakai adalah
– PET
Karena mengandung zat monietilen glikol, sedangkan kandungan minyaknya hanya berkisar 30%
– PVC
Mengandung racun berbahaya dengan senyawa DEHA yang mengeluarkan racun penyebab kanker, alergi, mengacaukan kerja hormon
Contoh PVC adalah pipa, mulsa, mika.
Untuk kasus PET dan PVC berjenis pipa dan mulsa masih bisa didaur ulang menjadi biji plastik.

Proses memasak
Pada mesin pyrolisis yang kami buat ada beberapa alternatif
1. Dengan kayu bakar
2. Dengan gas
3. Dengan kompor berbahan bakar minyak tanah
4. Dengan induksi
Suhu dalam pemasakan maksimal diangka 350°, bahan baku dimasukan dalam reaktor dengan suhu awal 75-100° disesuaikan dengan titik leleh plastik. Untuk kapasitas 60kg bahan baku diperlukan waktu sekitar 10 – 12 jam.
Reaktor hanya membutuhkan api atau bara sedikit karena desain dibuat sedemikian rupa sehingga panas tetap terperangkap dalam dinding.

Bahan bakar awal ini ditreatment dengan 3 jenis bahan baku lainnya padat dan cair.
Hasilnya sudah kami uji pada kompor, mesin traktor, sepeda motor dan mobil menengah.
Dilihat dari fungsi dan manfaatnya jelas bahwa mesin ini bisa dipakai untuk penuntasan limbah yang menghasilkan terutama untuk desa desa dan wilayah wilayah yang sulit bahan bakar.

Bagaimana peran pemerintah dalam menanggulangi limbah plastik sekaligus memberi dampak positif serta bisa menjadi kemandirian wilayah dalam hal energi
Patut menjadi pemikiran kita bersama. (Deetje)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.